ISEI: Waspadai Inflasi Tinggi

| |


PEKANBARU, KOMPAS.com - Indonesia diperkirakan sudah kewalahan dalam memenuhi sisi permintaan ekonomi karena tidak diimbangi oleh sisi suplainya, karena lemahnya infrastruktur nasional. Kondisi itu merupakan pertanda adanya tekanan terhadap harga komoditas domestik yang akan berakhir pada kenaikan inflasi.

"Ada saatnya infrastruktur yang sudah ada butuh pemeliharaan dan pembangunan yang baru. Jika itu tidak dilakukan, maka orang yang tahu dasar ekonomi pun akan paham bahwa akan terjadi output gap, yakni perbedaan antar pasokan dan permintaan agregat dalam perekonomian," ungkap Gubernur Bank Indonesia yang berbicara sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Darmin Nasution di Pekanbaru, Riau, Selasa (19/7/2011) dalam pembukaan Rapat Pleno XV ISEI.

Menurut Darmin, jika pasokan agregat tidak dikembangkan, dan permintaan agregat malah didorong lebih cepat, maka hasilnya bukan pertumbuhan ekonomi. Hasilnya justru akan menyebabkan inflasi lebih tinggi.
"Mudah-mudahan kita tidak masuk ke dalam kondisi itu. Namun, seluruh analisis saat ini menunjukkan seluruh sisi pasokan sudah hampir terkejar oleh perkembangan sisi permintaan. Kami cukup prihatin soal ini. Jangan sampai bergerak terlalu jauh dan lahirkan inflasi," katanya.
Atas dasar itulah, Indonesia harus berputar-putar pada wacana pertumbuhan ekonomi 6,5-6,6 persen, bukan antara 6,6 persen dengan 8 persen.

"Masalah infrastuktr sudah sejak lama dipermasalahkan. Kita terpaksa membuat kegiatan dengan pembangkit listrik sendiri. PLN dengan generator sendiri. Belum lagi soal pelabuhan. Sebaiknya, kita meniru China, Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang sudah memiliki lembaga pembiayaan infrastruktur," ujar Darmin.

Ketua Panitia Pelaksana Pusat Rapat Pleno XV ISEI, Edy Suandi Hamid menyebutkan ada 650 peserta dalam rapat pleno ini. 

Di Publikasikan oleh Sekretariat ISEI Pekanbaru Kategori .