Fadel Janji Bawa Investor Asia ke Riau

| |


enteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Muhammad (kanan) bersama Gubernur Riau HM Rusli Zainal menenteng oleh-oleh khas ikan pada peringatan Cat Fish Day, Rabu (6/7/2011) di Pekanbaru. (Foto: Humas Pemprov Riau)  

 
PEKANBARU (RP)- Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Fadel Muhammad menilai Riau dapat jadi referensi dalam pengembangan budidaya perikanan di Indonesia. Itu karena potensi budidaya untuk ikan jenis cat fish (ikan berkumis) mulai dilirik pasar di Asia.

‘’Berdasar hasil kunjungan di beberapa negara di Asia terdapat satu jenis ikan bernama dori. Jenis ikan ini sudah ada di Indonesia dan dikenal dengan nama cat fish, spesifikasinya ikan patin dan ikan lele. Ini yang jadi salah satu program prioritas kita di Riau,’’ ujarnya usai membuka program pencanangan Hari Ikan Berkumis (Cat Fish Day III), Rabu (6/7) di Hotel Ratu Mayang Garden.

Dengan pengembangan tersebut, Riau ke depannya diharap memiliki pasar tersendiri untuk pengembangan cat fish. Potensi di Riau sangat besar, dengan didukung topografi sungai dan kemampuan masyarakat di bidang budidaya.

Saat ditanya mengenai strategi pengembangan, Fadel menjawab pihaknya sudah berkoordinasi bersama Pemprov Riau dengan mempersiapkan beberapa program baru.
Langkah yang dilakukan adalah membuat pabrik pengelola dengan kapasitas besar.

‘’Kita menyiapkan jaringan ekspor ke Asia hingga memperkuat pasar. Saya yang akan bawa pengusaha Thailand untuk berinvestasi ke Riau. Pasar kita sangat jelas yakni Asia. Misalnya Hongkong dan Thailand dan beberapa negara lainnya,’’ ungkapnya. Menurut Fadel, selama periode 2007-2009, kenaikan rata-rata produksi Indonesia untuk komoditas lele dan patin, selalu di atas 50 persen. Dia optimis, produksi patin dan lele mencapai 2,7 juta ton pada 2014 mendatang.

‘’Permintaan lele di pasaran kini sangat meningkat. Terutama di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Jogjakarta saja mencapai 15 ton per harinya,’’ ujar Fadel.
Sementara Gubernur Riau HM Rusli Zainal mengatakan, produksi lele dan patin di Riau selalu meningkat tiap tahun. Tahun ini, produksi lele mencapai 146 ribu ton dan patin mencapai 132 ribu ton.

‘’Kita menargetkan pada 2015 mendatang, produksi lele di Riau bisa mencapai satu juta ton. Sedang target produki ikan patin 2015 nanti, mencapai 1,8 juta ton. Ini yang akan kita kembangkan dengan dukungan pemerintah pusat,’’ imbuhnya.

Makin Terpadu
Dikatakan Fadel, minapolitan (wilayah yang berisi sistem agribisnis berbasis perikanan dengan penggeraknya usaha agribisnis, red) yang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak 2009 makin menggeliat dan terpadu. Pada 2011 ini diharapkan terjadi percepatan peningkatan produksi dan pengembangan kawasan yang saling terpadu. Salah satu daerah yang paling diharapkan adalah Riau dalam hal ini Kabupaten Kampar yang telah ditetapkan sebagai salah satu daerah minapolitan di Indonesia.

Disebutkannya, kini sebagian besar produksi disalurkan untuk memenuhi pasar domestik, sementara pasar ekspor sangat potensial terutama untuk negara-negara Eropa dan Amerika.

Berdasar data Sekretariat Jenderal KKP, pada 2011, alokasi untuk program minapolitan sebesar Rp546,8 miliar. Yang terdiri dari Rp364,78 miliar untuk percontohan berbasis perikanan tangkap. Lalu untuk perikanan budi daya Rp141,12 miliar dan Rp58,96 miliar untuk pengembangan sentra garam.

‘’Bahkan untuk Riau jika dibanding tahun lalu alokasi anggaran saat ini meningkat dua kali lipat. Tahun lalu hanya Rp40,7 miliar. Tahun ini mencapai Rp98 miliar lebih. Tentu kita semua harus punya komitmen memajukan dunia perikanan. Jika nanti makin maju anggaran tentu akan saya naikkan dan begitu juga sebaliknya,’’ ujarnya.

Sejalan dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menghendaki Indonesia jadi produsen produk perikanan terbesar pada 2015, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mencanangkan program peningkatan produksi dari 4,7 juta ton pada 2009 jadi 16,8 juta ton pada 2014 atau meningkat 353 persen selama lima tahun. Ini sesuai misi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ingin menyejahterakan masyarakat khususnya pembudidaya ikan. Maka pada 2011, dicanangkan kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP-PB).

Kegiatan ini, lanjutnya, dilaksanakan karena dilatarbelakangi kondisi sosial ekonomi masyarakat pembudidaya ikan masih tergolong miskin. Salah satu upaya penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan kesepakatan global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium.

Mulai 2009, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan program Pengembangan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan ada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat.

‘’Upaya pengentasan kemiskinan di sektor kelautan dan perikanan tersebut, selanjutnya direncanakan dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Budidaya Tahun 2011 dalam rangka pengentasan kemiskinan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha perikanan skala mikro,’’ ujarnya.

PNPM Mandiri Kementerian Perikanan merupakan upaya kegiatan pemberdayaan. Di antaranya melalui fasilitasi bantuan pengembangan usaha bagi pembudidaya ikan dalam wadah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Pokdakan merupakan kelembagaan masyarakat kelautan dan perikanan pelaksana PUMP-PB untuk penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PUMP-PB, Pokdakan didampingi Tenaga Pendamping (Penyuluh atau PPTK) dan dilakukan peningkatan keterampilan pendukung. Melalui pelaksanaan PUMP-PB diharapkan Pokdakan dapat jadi kelembagaan ekonomi yang dimiliki dan dikelola pembudidaya ikan.

Untuk mencapai tujuan PUMP-PB, yaitu mendorong peningkatan produksi, menumbuhkan wirausaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat perikanan budidaya di pedesaan, PUMP-PB perlu dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan KKP maupun kementerian/lembaga lain di bawah payung program PNPM Mandiri. Di samping itu, program PUMP-PB diupayakan juga dapat mendukung kegiatan pembangunan kawasan minapolitan khususnya minapolitan perikanan budidaya.

Dengan demikian kegiatan PUMP-PB diharap akan memberi sumbangan nyata terhadap pencapaian target produksi perikanan budidaya serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan pada 2011 dan tahun-tahun berikutnya.(rio/why/rdh)

Di Publikasikan oleh Sekretariat ISEI Pekanbaru Kategori .